Tampilkan postingan dengan label Kakak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kakak. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Februari 2011
Ulang Tahun Ibuku
Selamat ulang tahun, Ibu! Semoga kau tetap menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakmu. Yaitu, untuk aku dan adik laki-laki. Aku doakan juga agar kau panjang umur. Sebagai tanda terima kasih atas kebaikanmu, aku membuat sebuah puisi untukmu.
Ibu Terbaikku
Ibu...
Terima kasih atas kebaikanmu selama ini
Ingin aku membalas segala yang telah kau berikan padaku
Paling tidak sebuah hadiah kecil yang pantas kau terima dari aku
Ibu...
Akhirnya ,kubuat sebuah puisi untuk membalas sebagian kecil dari yang kau berikan padaku
Tapi, aku ingin membalas lebih dari sekedar puisi
Dan, kutambahkan lagu di dalamnya
Ibu...
Sekarang umurmu telah bertambah satu tahun
Kuharapkan yang terbaik untukmu
Semoga hadiah dariku indah di matamu
Ibu... Selamat ulang tahun di tanggal 28 Februari ini. Aku berharap lagu dan puisi yang aku persembahkan indah di matamu.
Dari anak perempuan kesayanganmu,
Fathia
Kamis, 23 September 2010
Catatan Harian Si Kakak Saat Punya Adik
“Sebentar lagi, adikmu akan lahir.” Papa memberitahuku. Saat aku masih berumur 3,5 tahun itu, kami sedang menunggu kehadiran anggota keluarga baru. Aku penasaran melihat seperti apa rupa adikku. Apakah mirip denganku?
Papa dan Mama sejak jauh-jauh hari sudah sering mengajakku bicara tentang adik. Mereka bilang aku bakal punya teman. Setiap Mama periksa ke dokter kandungan, aku selalu diajak ikut serta untuk melihat perkembangan adik. Lucu juga melihat rupanya di monitor. Menurutku, bentuknya aneh seperti kacang berdenyut. Lalu, beberapa bulan kemudian berubah seperti kecebong. Masa iya bentuknya nanti bisa sama denganku? Mama dan Papa bilang bahwa itulah salah satu kebesaran Tuhan.
Selama Mama berada di rumah sakit untuk menunggu kelahiran adik, aku dititipkan di rumah kakek dan nenek. Sebenarnya aku suka menginap di sana, tapi sekarang aku merasa kesepian karena Papa dan Mama ada di rumah sakit. Aku ingin sekali bersama mereka dan menyaksikan peristiwa penting di dalam keluarga kami. Rasanya kangen dan tidak nyaman berada di rumah kakek lama-lama tanpa orang tua. Awalnya aku meminta agar aku boleh ikut menginap di rumah sakit, tapi anak kecil tidak boleh tinggal di dalam ruang bersalin. Sedihnya...
Saat tiba waktunya Mama melahirkan, aku pergi ke rumah sakit bersama anggota keluargaku yang lain. Di sana, sekali lagi aku memohon agar diperbolehkan masuk menemui orangtuaku. Tapi, anak kecil tetap saja tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang bersalin. Kalian pasti tahu kan apa yang dilakukan anak kecil jika sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai? Ya, benar. Menangis! Masa mereka tidak mengerti aku ingin bersama Mama dan Papa.
Mungkin kakek merasa kasihan kepadaku karena menangis, sehingga ia mencari cara untuk menyusup ke dalam ruang bersalin. Duh, senangnya bisa melihat wajah Mama dari jauh. Sayang kami tidak berhasil mendekatinya, karena dihalangi oleh perawat yang kaget setengah mati melihat kami muncul di ruangannya. Memang, kakekku ada-ada saja. Kami pun kembali keluar, karena ditegur oleh sang perawat.
Setelah Mama melahirkan, aku akhirnya diperbolehkan juga menghampiri Mama dan adik baruku. Tentu saja, aku senang luar biasa. Apalagi, ketika Mama memelukku dengan erat dan memuji diriku karena tidak rewel selama ditinggal.
Wah, ternyata adikku lucu! Seorang bayi laki-laki tampan. Sebenarnya sih aku ingin adik perempuan, tapi tak apalah. Kata Mama dan Papa, laki-laki atau perempuan sama-sama merupakan karunia Tuhan yang perlu disyukuri.
Beberapa hari setelah adik lahir, ada kejadian yang tak terduga. Aku menutupi kepala adik dengan topi kesayanganku. Mama baru saja berpaling untuk mempersiapkan peralatan mandi sore, tapi saat kembali wajah adik sudah tertutup. Aku hanya ingin mendandani adik seperti bonekaku. Itu sebabnya aku terkejut ketika Mama menasihati “Kakak, lain kali jangan seperti ini lagi ya. Kasihan adik bayi, jadi tidak bisa bernapas.” Maafkan aku, Dik. Aku tak tahu perbuatanku itu bisa membuatmu celaka.
Dari hari ke hari, aku sering menatap adik dengan tatapan cemburu. Sebelum adik lahir, orang tuaku selalu memberikan kasih sayang sepenuhnya kepadaku. Tapi, sekarang rasanya seluruh perhatian mereka terfokus kepada adik. Setiap pulang, Papa selalu menanyakan “Bagaimana jagoan kecilku?” atau “Sudah minum susu belum?” Memang sih aku juga ditanya. Bahkan, seringnya aku disapa pada urutan pertama. Tapi, tetap saja rasanya tak sama.
Mama nyaris setiap saat mengurusi adik. Apakah mungkin orang tua yang sudah mempunyai anak baru akan segera melupakan anak pertamanya? Ibaratnya, anak kecil berpikir mainan lamanya adalah mainan terbaiknya, tapi saat ia mempunyai mainan baru, mainan lamanya akan dilupakan.
Beginikah rasanya menjadi kakak? Semula aku senang sekali, tapi sekarang aku mulai berubah pikiran. Ternyata menjadi kakak itu adalah pekerjaan yang berat. Harus membantu Mama menjaga adik sebentar, harus membantu Mama mengambilkan perlak ketika adik akan diganti popoknya, dsb.
Tugas adik pasti selalu dikerjakan oleh Mama, sedang adik kerjanya hanya menangis dan buang air saja. Kadang-kadang aku merasa kasihan terhadap Mama karena pada malam hari ketika adik menangis, Mama harus membuka mata untuk menenangkan adik. Akibatnya, keesokan hari Mama masih mengantuk.
Adik telah mengubah hidupku yang semula cerah menjadi gelap. Aku sebenarnya ingin sekali mempunyai adik, tapi aku juga ingin merasakan kasih sayang yang sama besarnya seperti semula. Meskipun Mama dan Papa sudah menerangkan padaku bahwa bayi memang masih perlu banyak dibantu, dan waktu bayi aku pun diperlakukan seperti itu, tetap saja rasanya menyebalkan.
Tapi, sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa dan ada hal yang bisa membuat perasaanku berubah pada adik. Cemburuku memudar. Mama dan Papa sering mengajakku bercanda dengan adik. Senangnya! Lebih asyik daripada bermain sendirian. Nah, mulai saat itu aku menarik kembali pikiranku tentang adik yang mengesalkan. Sebaliknya, ternyata mempunyai adik itu adalah sesuatu yang amat menyenangkan.
Aku jadi ingat peristiwa lucu di saat adik mulai belajar berjalan dan lagu Samsons tengah terkenal. Adik suka sekali lagu mereka dan ketika TV memutar video klipnya, ia menari dengan pinggul bergoyang ke kanan ke kiri. Tangan melambai ke atas - ke kanan - ke kiri. Hihihi... bikin gemes deh.
Aku jadi mengerti bahwa kehadiran bayi di keluarga mengajarkan kita untuk bergotong royong. Selain aku, Papa sering membantu Mama untuk membuatkan adik susu, memandikan adik, dan hal-hal yang lain. Jadi, dengan bangga aku katakan bahwa Papaku sudah lulus dan resmi menjadi ayah ronde kedua yang baik. Karena ronde pertamanya kan ia telah menjadi ayah yang baik bagiku. Hehehe.
Sekarang, adik sudah kelas 1 SD. Meski kadang-kadang terjadi perselisihan di antara kami, tapi aku tetap sayang padanya. Para kakak, biar kuberi tahu satu hal. Jika kalian berpikir bahwa memiliki adik itu tidak menyenangkan, buanglah pikiran itu jauh-jauh. Kalau sudah tahu dan mengerti yang sebenarnya, kalian juga pasti akan berpikir bahwa punya adik adalah sebuah peristiwa luar biasa.
Fathia Amira adalah pelajar kelas 5 SD. Mengikuti jejak hobi kedua orangtuanya, seperti olahraga dan seni, telah diukirnya dengan berbagai prestasi sampai ke tingkat wilayah II. Renang, menyanyi dan menulis adalah kegemarannya. Gadis ini semakin memperdalam kecintaannya di dunia tulis-menulis, sejak diperkenalkan Mama pada dunia maya. Inspirasinya bisa ditemukan di blog pribadi Amalia's Heart.
Papa dan Mama sejak jauh-jauh hari sudah sering mengajakku bicara tentang adik. Mereka bilang aku bakal punya teman. Setiap Mama periksa ke dokter kandungan, aku selalu diajak ikut serta untuk melihat perkembangan adik. Lucu juga melihat rupanya di monitor. Menurutku, bentuknya aneh seperti kacang berdenyut. Lalu, beberapa bulan kemudian berubah seperti kecebong. Masa iya bentuknya nanti bisa sama denganku? Mama dan Papa bilang bahwa itulah salah satu kebesaran Tuhan.
Selama Mama berada di rumah sakit untuk menunggu kelahiran adik, aku dititipkan di rumah kakek dan nenek. Sebenarnya aku suka menginap di sana, tapi sekarang aku merasa kesepian karena Papa dan Mama ada di rumah sakit. Aku ingin sekali bersama mereka dan menyaksikan peristiwa penting di dalam keluarga kami. Rasanya kangen dan tidak nyaman berada di rumah kakek lama-lama tanpa orang tua. Awalnya aku meminta agar aku boleh ikut menginap di rumah sakit, tapi anak kecil tidak boleh tinggal di dalam ruang bersalin. Sedihnya...
Saat tiba waktunya Mama melahirkan, aku pergi ke rumah sakit bersama anggota keluargaku yang lain. Di sana, sekali lagi aku memohon agar diperbolehkan masuk menemui orangtuaku. Tapi, anak kecil tetap saja tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang bersalin. Kalian pasti tahu kan apa yang dilakukan anak kecil jika sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai? Ya, benar. Menangis! Masa mereka tidak mengerti aku ingin bersama Mama dan Papa.
Mungkin kakek merasa kasihan kepadaku karena menangis, sehingga ia mencari cara untuk menyusup ke dalam ruang bersalin. Duh, senangnya bisa melihat wajah Mama dari jauh. Sayang kami tidak berhasil mendekatinya, karena dihalangi oleh perawat yang kaget setengah mati melihat kami muncul di ruangannya. Memang, kakekku ada-ada saja. Kami pun kembali keluar, karena ditegur oleh sang perawat.
Setelah Mama melahirkan, aku akhirnya diperbolehkan juga menghampiri Mama dan adik baruku. Tentu saja, aku senang luar biasa. Apalagi, ketika Mama memelukku dengan erat dan memuji diriku karena tidak rewel selama ditinggal.
Wah, ternyata adikku lucu! Seorang bayi laki-laki tampan. Sebenarnya sih aku ingin adik perempuan, tapi tak apalah. Kata Mama dan Papa, laki-laki atau perempuan sama-sama merupakan karunia Tuhan yang perlu disyukuri.
Beberapa hari setelah adik lahir, ada kejadian yang tak terduga. Aku menutupi kepala adik dengan topi kesayanganku. Mama baru saja berpaling untuk mempersiapkan peralatan mandi sore, tapi saat kembali wajah adik sudah tertutup. Aku hanya ingin mendandani adik seperti bonekaku. Itu sebabnya aku terkejut ketika Mama menasihati “Kakak, lain kali jangan seperti ini lagi ya. Kasihan adik bayi, jadi tidak bisa bernapas.” Maafkan aku, Dik. Aku tak tahu perbuatanku itu bisa membuatmu celaka.
Dari hari ke hari, aku sering menatap adik dengan tatapan cemburu. Sebelum adik lahir, orang tuaku selalu memberikan kasih sayang sepenuhnya kepadaku. Tapi, sekarang rasanya seluruh perhatian mereka terfokus kepada adik. Setiap pulang, Papa selalu menanyakan “Bagaimana jagoan kecilku?” atau “Sudah minum susu belum?” Memang sih aku juga ditanya. Bahkan, seringnya aku disapa pada urutan pertama. Tapi, tetap saja rasanya tak sama.
Mama nyaris setiap saat mengurusi adik. Apakah mungkin orang tua yang sudah mempunyai anak baru akan segera melupakan anak pertamanya? Ibaratnya, anak kecil berpikir mainan lamanya adalah mainan terbaiknya, tapi saat ia mempunyai mainan baru, mainan lamanya akan dilupakan.
Beginikah rasanya menjadi kakak? Semula aku senang sekali, tapi sekarang aku mulai berubah pikiran. Ternyata menjadi kakak itu adalah pekerjaan yang berat. Harus membantu Mama menjaga adik sebentar, harus membantu Mama mengambilkan perlak ketika adik akan diganti popoknya, dsb.
Tugas adik pasti selalu dikerjakan oleh Mama, sedang adik kerjanya hanya menangis dan buang air saja. Kadang-kadang aku merasa kasihan terhadap Mama karena pada malam hari ketika adik menangis, Mama harus membuka mata untuk menenangkan adik. Akibatnya, keesokan hari Mama masih mengantuk.
Adik telah mengubah hidupku yang semula cerah menjadi gelap. Aku sebenarnya ingin sekali mempunyai adik, tapi aku juga ingin merasakan kasih sayang yang sama besarnya seperti semula. Meskipun Mama dan Papa sudah menerangkan padaku bahwa bayi memang masih perlu banyak dibantu, dan waktu bayi aku pun diperlakukan seperti itu, tetap saja rasanya menyebalkan.
Tapi, sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa dan ada hal yang bisa membuat perasaanku berubah pada adik. Cemburuku memudar. Mama dan Papa sering mengajakku bercanda dengan adik. Senangnya! Lebih asyik daripada bermain sendirian. Nah, mulai saat itu aku menarik kembali pikiranku tentang adik yang mengesalkan. Sebaliknya, ternyata mempunyai adik itu adalah sesuatu yang amat menyenangkan.
Aku jadi ingat peristiwa lucu di saat adik mulai belajar berjalan dan lagu Samsons tengah terkenal. Adik suka sekali lagu mereka dan ketika TV memutar video klipnya, ia menari dengan pinggul bergoyang ke kanan ke kiri. Tangan melambai ke atas - ke kanan - ke kiri. Hihihi... bikin gemes deh.
Aku jadi mengerti bahwa kehadiran bayi di keluarga mengajarkan kita untuk bergotong royong. Selain aku, Papa sering membantu Mama untuk membuatkan adik susu, memandikan adik, dan hal-hal yang lain. Jadi, dengan bangga aku katakan bahwa Papaku sudah lulus dan resmi menjadi ayah ronde kedua yang baik. Karena ronde pertamanya kan ia telah menjadi ayah yang baik bagiku. Hehehe.
Sekarang, adik sudah kelas 1 SD. Meski kadang-kadang terjadi perselisihan di antara kami, tapi aku tetap sayang padanya. Para kakak, biar kuberi tahu satu hal. Jika kalian berpikir bahwa memiliki adik itu tidak menyenangkan, buanglah pikiran itu jauh-jauh. Kalau sudah tahu dan mengerti yang sebenarnya, kalian juga pasti akan berpikir bahwa punya adik adalah sebuah peristiwa luar biasa.
***
Kisah ini ditulis sebagai entri Lomba Menulis Ketika Balitaku Punya Adik yang diselengarakan oleh Ibu Ida SW.Fathia Amira adalah pelajar kelas 5 SD. Mengikuti jejak hobi kedua orangtuanya, seperti olahraga dan seni, telah diukirnya dengan berbagai prestasi sampai ke tingkat wilayah II. Renang, menyanyi dan menulis adalah kegemarannya. Gadis ini semakin memperdalam kecintaannya di dunia tulis-menulis, sejak diperkenalkan Mama pada dunia maya. Inspirasinya bisa ditemukan di blog pribadi Amalia's Heart.
1000 Cinta Mama Untukku
Orang bilang jerih payah seorang ibu untuk melahirkan anak adalah antara hidup dan mati. Jujur saja, aku tak bisa mengomentari tentang hal ini. Karena, aku belum punya bayangan tentang bagaimana rasanya. Sebagai anak SD, sampai saat ini aku masih bertanya-tanya bagaimana proses melahirkan itu sebenarnya? Tapi, satu hal itu pasti. Aku yakin Mama melakukan segala yang terbaik untukku. Mama akan selalu melimpahkan kasih sayangnya kepadaku. Beribu-ribu kasih sayang yang dia tujukan padaku. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, bahkan setiap tahun. Ya, setiap saat!
Mama, tak pernah kulihat wanita setegar engkau. Meski kadang aku dimarahi, aku tetap sayang padamu. Aku sadar kau hanya menginginkan yang terbaik untukku. Sejak kecil kaulah yang selalu membimbingku dan tanpa lelah menemaniku. Sungguh senang rasanya bila aku sepanjang waktu bisa berada di pelukanmu yang lembut. Kalau saja mungkin, selamanya tak mau kulepas kehangatannya. Senyum dan candamu menjadi penyejuk jiwaku. Kehadiranmu sungguh membangun rasa percaya diriku. Kau tahu cara mendukungku di setiap waktu, dan senantiasa berusaha mendorongku untuk berjuang maju.
Di saat-saat aku pergi mengikuti lomba atau kemah, kau tak pernah lupa membekaliku dengan camilan kesukaanku. Sekotak Gery Chocolatos atau lebih pasti terselip dalam tas agar bisa kubagi bersama teman-teman. Saat aku dan adik ulang tahun, bingkisan yang dibagikan pada para undangan pun tak pernah ketinggalan dengan stik coklat favoritku.
Menyanyi adalah salah satu hobiku. Saat aku membutuhkan lagu yang cocok untuk tampil, Mama membantu mencarikan lagu yang cocok dengan warna suaraku. Saat ini benakku dipenuhi oleh syair lagu Ungu terbaru berjudul Doa Untuk Ibu. Kupersembahkan liriknya yang indah untuk Mama tercinta.
Mama, akan kuhargai semua jerih payah yang telah kau berikan padaku. Kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui dan tak ada yang dapat menggantikan tempatmu.
Mama, aku ingin selalu bersamamu. Karena kaulah yang membuatku merasa nyaman saat aku berada di dekatmu. Dengan bantuanmu dan tentunya ridho Tuhan, aku yakin bisa menghadapi semua tantangan hidupku. Terima kasih Mama. Jasa-jasamu akan selalu kuingat sepanjang masa.
Mama, tak pernah kulihat wanita setegar engkau. Meski kadang aku dimarahi, aku tetap sayang padamu. Aku sadar kau hanya menginginkan yang terbaik untukku. Sejak kecil kaulah yang selalu membimbingku dan tanpa lelah menemaniku. Sungguh senang rasanya bila aku sepanjang waktu bisa berada di pelukanmu yang lembut. Kalau saja mungkin, selamanya tak mau kulepas kehangatannya. Senyum dan candamu menjadi penyejuk jiwaku. Kehadiranmu sungguh membangun rasa percaya diriku. Kau tahu cara mendukungku di setiap waktu, dan senantiasa berusaha mendorongku untuk berjuang maju.
Di saat-saat aku pergi mengikuti lomba atau kemah, kau tak pernah lupa membekaliku dengan camilan kesukaanku. Sekotak Gery Chocolatos atau lebih pasti terselip dalam tas agar bisa kubagi bersama teman-teman. Saat aku dan adik ulang tahun, bingkisan yang dibagikan pada para undangan pun tak pernah ketinggalan dengan stik coklat favoritku.
Menyanyi adalah salah satu hobiku. Saat aku membutuhkan lagu yang cocok untuk tampil, Mama membantu mencarikan lagu yang cocok dengan warna suaraku. Saat ini benakku dipenuhi oleh syair lagu Ungu terbaru berjudul Doa Untuk Ibu. Kupersembahkan liriknya yang indah untuk Mama tercinta.
Doa Untuk Ibu
kau memberikanku hidup
kau memberikanku kasih sayang
tulusnya cintamu, putihnya kasihmu
takkan pernah terbalaskan
hangat dalam dekapanmu
memberikan aku kedamaian
eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu
takkan pernah terlupakan
reff:
oh ibu terima kasih
untuk kasih sayang yang tak pernah usai
tulus cintamu takkan mampu
untuk terbalaskan
oh ibu semoga tuhan
memberikan kedamaian dalam hidupmu
putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku
repeat reff
ooohh putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku
Mama, akan kuhargai semua jerih payah yang telah kau berikan padaku. Kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui dan tak ada yang dapat menggantikan tempatmu.
Mama, aku ingin selalu bersamamu. Karena kaulah yang membuatku merasa nyaman saat aku berada di dekatmu. Dengan bantuanmu dan tentunya ridho Tuhan, aku yakin bisa menghadapi semua tantangan hidupku. Terima kasih Mama. Jasa-jasamu akan selalu kuingat sepanjang masa.
***
Cerita ini merupakan entri "Lomba 1000 Kisah Tentang Ibu" persembahan Ungu dan Gery Chocolatos.Rabu, 08 September 2010
Resensi Buku Emak2 Fesbuker Mencari Cinta | Lomba
Aku ikutan resensi untuk lomba. Kalau suka karyaku ini, mohon diberi komentar atau like di Notes Facebook-ku ini ya. Trims sebelumnya ^_^.
Emak2 Fesbuker Mencari Cinta adalah buku yang menarik. Aku sangat senang membacanya. Bagaimana nggak? Buku ini berisi tentang emak-emak atau ibu-ibu yang menceritakan kisah dirinya atau kisah orang lain, serta bercerita bagaimana perasaannya ketika ia mempunyai Facebook.
Emak2 Fesbuker Mencari Cinta adalah buku yang menarik. Aku sangat senang membacanya. Bagaimana nggak? Buku ini berisi tentang emak-emak atau ibu-ibu yang menceritakan kisah dirinya atau kisah orang lain, serta bercerita bagaimana perasaannya ketika ia mempunyai Facebook.
Jujur, pada awalnya aku berpikir buku ini sama sekali tidak menarik. Aku kan bukan emak-emak, tapi siswa SD. Namun saat aku mulai membaca, timbul perasaan untuk terus membuka halaman demi halaman. Rasanya kisah yang mereka ceritakan sangat seru dan membuatku penasaran.
Salah satu cerita Emak2 Fesbuker Mencari Cinta benar-benar membuatku geregetan. Masa ibu-ibu lupa sama pekerjaan sehari-hari yang seharusnya dia kerjakan. Saat anak rewel, ibu itu pasti bilang "Ntar dulu kenapa?!" atau "Sebentar..." dan masih banyak lagi. Masa suaminya terus sih yang harus mengingatkan. Anak lagi pengen pipis nggak diurus. Tapi suaminya yang baru pulang kerja langsung mengurus anak. Jadi bingung, memangnya sekarang suami dan istri tukaran pekerjaan? Suami mengurusi anak, sementara istri santai-santai. Duh, pusing! Jangan begitu dong.
Terus, ada juga kisah tentang orang yang dapat memanfaatkan FB. Kita bisa memakai FB untuk berkomunikasi, walaupun jaraknya sejauh apapun. Ini bisa menjadi obat kangen dengan orang-orang yang kita sayangi. Pokoknya, ternyata banyak deh manfaat FB. Coba saja baca sendiri buku Emak2 Fesbuker Mencari Cinta.
Saran aku buat penerbit atau penulis: coba deh bikin lagi buku seperti ini. Bisa tentang Facebook lagi atau bisa juga tentang blog. Soalnya aku punya blog, tapi masih jarang dipakai. Aku butuh cerita yang bisa bantu aku untuk lebih sering memakai blog. Karena aku suka cerita, dan aku lebih senang belajar dengan membaca cerita-cerita menarik.
Aku nggak pengen mengkritik, karena semua cerita yang ada dalam buku Emak2 Fesbuker Mencari Cinta menurutku bagus. Pokoknya, aku suka banget buku ini.

Judul: Emak2 Fesbuker Mencari Cinta
Penulis: Lin Wulynne, Miyosi Ariefiansyah dkk.
Ilustrator sampul: Farida Ulfa Farano
Editor: Lin Wulynne
Pemerhati Aksara: Nanik Andayani
Penerbit: Leutika
Tahun: 2010
Jumlah halaman: 228
ISBN: 978-602-8597-42-5
Link lomba: http://www.facebook.com/note.php?note_id=135265956516165
Penulis: Lin Wulynne, Miyosi Ariefiansyah dkk.
Ilustrator sampul: Farida Ulfa Farano
Editor: Lin Wulynne
Pemerhati Aksara: Nanik Andayani
Penerbit: Leutika
Tahun: 2010
Jumlah halaman: 228
ISBN: 978-602-8597-42-5
Langganan:
Postingan (Atom)

